Minggu, 03 Februari 2013

Karyawan vs Pegawai



Karyawan vs Pegawai

Karyawan lebih dinisbatkan pada pekerja perusahaan swasta, sedangkan pegawai sebagai pekerja pada pemerintah (PNS, pegawai negeri sipil). Pegawai di pemerintahan dapat bekerja di BUMN (badan usaha milik negara), BUMD (badan usaha milik daerah), Pemerintah pusat, Pemda (pemerintah daerah), atau di Kementeriaan (dahulu Departemen).

Penulis mencoba membandingkan orang yang asalnya bekerja di perusahaan swasta pindah ke Kementeriaan karena diterima menjadi PNS, dengan orang yang telah pensiun dari BUMN (strategis) melakukan purna bakti atau berkarya (bekerja lagi) di perusahaan swasta. Orang pertama masih muda, energik, mau belajar, gaul, berani, jujur, dan taat beragama. Dia bekerja di perusahaan swasta dengan tidak memiliki job description yang jelas, apalagi posisinya dalam struktur organisasi. Bidang pekerjaannya tidak sesuai dengan latar belakang dan spesialisasi pendidikannya, tetapi dia menikmati dan antusias mempelajari hal-ikhwal kekomputeran. Dia merasa sebagai pekerja yang malas. Akan tetapi orang lain melihat dia bekerja biasa saja. Tidak terlalu rajin juga tidak masuk kategori malas. Memang pekerjaannya kadang santai, tetapi jika ada konsultan perusahaan pekerjaannya menjadi menumpuk. Setelah ada informasi penerimaan calon PNS di sebuah Kementerian, kesempatan itu tidak disia-siakan. Lowongan itu dimanfaatkan serius dengan menyiapkan diri untuk menghadapi tes ujian masuk. Alhamdulillah, diterima di sebuah cabang dan mulailah dia bekerja. Ternyata, dia heran bekerja dalam lingkungan barunya. Dia yang hanya bekerja biasa saja, dikatakan termasuk rajin, bahkan terlalu rajin di kantor barunya. Akhirnya, dia bergumam kalau begini saja rajin bagaimana malasnya. Dia merasa, sebagai orang yang paling malas (waktu di swasta) menjadi orang paling rajin (kini di instansi pemerintah). Dia juga berpikir, kalau semua personil pegawai pemerintah bekerja dengan kinerja yang dia lihat sehari-hari demikian, mau dibawa kemana ini negara dan bagaimana mau mengurus rakyat. Namun, dia tetap tidak terpengaruh keadaan dan bahkan konsisten dalam menjalankan agama dan profesi barunya. Agama menjadi pedoman dalam bersikap ketika dia berseteru dengan pimpinannya perihal ’sesuatu’ yang menurutnya tidak layak dan tidak halal untuk dilakukan. Dia memilih dipindahtugaskan ke bagian lain ketimbang bekerja dalam suasana yang tidak nyaman dan tidak sesuai hati kecil. Perjalanan karirnya insya Allah cemerlang dengan berbagai indikator yang menjadi sekian alternatif untuk dijalani.

Pihak kedua terdiri dari orang yang telah pensiun dari sebuah BUMN masuk kerja kembali di perusahaan swasta. Mereka diminta oleh owner perusahaaan untuk membantu memperlancar persiapan produksi pabrik baru. Mereka berasal dari bidang yang berlainan dan diterima bekerja sesuai bidang kerja asalnya. Dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan karyawan sangat membatasi diri, hanya pada level manajerial tertentu dan yang langsung berkaitan dengan masalah pekerjaannya saja. Dengan ukuran usia dan pengalaman yang dimiliki menunjukan bahwa mereka adalah orang-orang yang ahli dan memilki posisi strategis di tempat lamanya. Menjaga imej masih dipegang sebagai orang yang pernah duduk di perusahaan besar dengan standar nasional. Kelihatannya sewaktu bekerja di tempat lamanya, mereka lebih banyak bergelut dalam manajemen dan berkutat dengan administrasi. Ketika di tempat barunya, kelihatan gagap untuk ’turun gunung’ lebih dulu untuk beradaptasi. Mereka heran melihat orang yang berposisi dalam manajerial turun mengatasi masalah teknis di lapangan. Lain di perusahaan pemerintah lain pula di perusahaan swasta, mungkin pikirnya. Namun, hari demi hari dapat dilalui dengan mulai berinteraksi dengan berbagai jenjang karyawan, terutama dalam hubungan nonformal (misal waktu ishoma). Melibatkan diri secara proaktif di lapangan sudah kelihatan lebih intens. Demikian pula dengan berinteraksi dengan bagian lain sudah mulai berjalan baik dan ramah.

Dari dua peristiwa di atas, tidak saja dapat dilihat dari posisi pekerja, tetapi juga dari sisi perusahaan yang menerima. Jika dilihat dari pekerja, maka orang muda di atas sedang semangatnya berjuang meniti karir dalam mencari ’makan’ (nafkah buat keluarga), sementara orang yang telah pensiun hanya menjalankan ’hobi’nya (jika profesi sudah menjadi hobi), sekedar mengisi waktu dan buat menambah kekayaan. Dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, si orang muda lebih berpotensi dibanding dengan orang tua, sehingga lebih kecil mengalami ’cultural shock’ di tempat barunya. Orang muda lebih bisa cuek dah! menembus sekat-sekat birokratis.
Sistem rekruitmen perusahaan yang menerima pekerja menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan dalam kasus ini. Orang pertama masuk melalui tes masal yang diadakan pemerintah dan setelah diterima langsung ditempatkan. Sedangkan pada orang-orang di pihak kedua tidak mendapatkan sistem rekruitmen yang baik. Apalagi diminta untuk membantu (walaupun tetap digaji dong! masa sih orang kerja engga digaji?). Bahwa mereka telah memilki posisi tertentu di tempat lamanya seharusnya disiapkan segala sarana, fasilitas, sumber daya pendukung, dan job description dalam struktur organisasi yang jelas. Kultur dan atmosfer yang sangat kontras dan bertolak belakang juga menjadi penghambat untuk berkarya dan bekerja sama dengan orang lain terutama dalam tim kerja.

Simpulannya, kedua kasus di atas tidak dapat menjadi refresentasi bagi berpindahnya karyawan menjadi pegawai atau pensiunan pegawai menjadi karyawan. Kedua kasus tersebut tidak dapat digeneralisasi untuk semua karyawan di swasta dan pegawai di pemerintah seperti di atas. Apalagi kalau sudah menyangkut sistem manajemen dan kepemimpinan, kultur dan atmosfer setiap perusahaan akan lebih kompleks masalahnya. Jangankan membandingkan sebuah perusahaan swasta dengan perusahaan pemerintah, sesama perusahaan swasta dengan bidang usaha yang sama atau sesama perusahaan pemerintah, tentunya akan banyak perbedaan yang dijumpai.

Setiap pribadi dapat berkembang disebabkan 2 hal baik faktor internal atau eksternal. Faktor internal diperoleh dari dalam individu itu sendiri, sementara faktor eksternal didapatkan dari lingkungan (organisasi). Mana yang lebih dominan pada setiap orang tidak sama. Ada orang yang biasa saja, tetapi setelah masuk dalam suatu organisasi menjadi pribadi luar biasa. Organisasi telah membentuknya. Sebaliknya, ada orang yang sebelum masuk organisasi sudah memiliki pribadi yang prima dan unggul. Tanpa peran organisasi, orang ini tetap dengan dirinya.
Penulis membuat guyonan buat orang lain yang masuk ruang kerja dan berbincang segala hal. Bahwa hati-hati setelah ke luar dari ruangan ini, kamu akan menjadi pintar atau mental rusak. Just kidding!

Mengenai keterkaitan antara orang dengan tempat dia bekerja, berkarya, dan berkreasi terdapat moto yang sudah diketahui khalayak umum dan sering diulang-ulang, yakni the right man on the right place. Akan tetapi dalam praktik dan kenyataannya, terjadi ada orang bagus di tempat yang bagus, ada orang bagus di tempat yang jelek, ada orang jelek di tempat yang bagus, atau ada orang jelek di tempat yang jelek.
Nah, baiknya sebelum menilai apakah faktor orang lain atau sistemnya yang jelek, kan lebih baik introspeksi ke diri kita dulu. Bahasa agamanya, muhasabah! Satu jari (telunjuk) mengarah ke depan, keempat jarinya menunjuk batang hidung sendiri.
Peran kita yang jelek, kok cermin yang dibelah!
Cermin tidak pernah bohong, kan?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar