Karyawan vs Pegawai
Karyawan lebih dinisbatkan pada pekerja perusahaan
swasta, sedangkan pegawai sebagai pekerja pada pemerintah (PNS, pegawai negeri
sipil). Pegawai di pemerintahan dapat bekerja di BUMN (badan usaha milik
negara), BUMD (badan usaha milik daerah), Pemerintah pusat, Pemda (pemerintah
daerah), atau di Kementeriaan (dahulu Departemen).
Penulis mencoba membandingkan orang yang asalnya
bekerja di perusahaan swasta pindah ke Kementeriaan karena diterima menjadi
PNS, dengan orang yang telah pensiun dari BUMN (strategis) melakukan purna
bakti atau berkarya (bekerja lagi) di perusahaan swasta. Orang pertama masih
muda, energik, mau belajar, gaul, berani, jujur, dan taat beragama. Dia bekerja
di perusahaan swasta dengan tidak memiliki job
description yang jelas, apalagi posisinya dalam struktur organisasi. Bidang
pekerjaannya tidak sesuai dengan latar belakang dan spesialisasi pendidikannya,
tetapi dia menikmati dan antusias mempelajari hal-ikhwal kekomputeran. Dia
merasa sebagai pekerja yang malas. Akan tetapi orang lain melihat dia bekerja
biasa saja. Tidak terlalu rajin juga tidak masuk kategori malas. Memang
pekerjaannya kadang santai, tetapi jika ada konsultan perusahaan pekerjaannya
menjadi menumpuk. Setelah ada informasi penerimaan calon PNS di sebuah
Kementerian, kesempatan itu tidak disia-siakan. Lowongan itu dimanfaatkan
serius dengan menyiapkan diri untuk menghadapi tes ujian masuk. Alhamdulillah,
diterima di sebuah cabang dan mulailah dia bekerja. Ternyata, dia heran bekerja
dalam lingkungan barunya. Dia yang hanya bekerja biasa saja, dikatakan termasuk
rajin, bahkan terlalu rajin di kantor barunya. Akhirnya, dia bergumam kalau
begini saja rajin bagaimana malasnya. Dia merasa, sebagai orang yang paling
malas (waktu di swasta) menjadi orang paling rajin (kini di instansi
pemerintah). Dia juga berpikir, kalau semua personil pegawai pemerintah bekerja
dengan kinerja yang dia lihat sehari-hari demikian, mau dibawa kemana ini
negara dan bagaimana mau mengurus rakyat. Namun, dia tetap tidak terpengaruh
keadaan dan bahkan konsisten dalam menjalankan agama dan profesi barunya. Agama
menjadi pedoman dalam bersikap ketika dia berseteru dengan pimpinannya perihal ’sesuatu’
yang menurutnya tidak layak dan tidak halal untuk dilakukan. Dia memilih
dipindahtugaskan ke bagian lain ketimbang bekerja dalam suasana yang tidak
nyaman dan tidak sesuai hati kecil. Perjalanan karirnya insya Allah cemerlang
dengan berbagai indikator yang menjadi sekian alternatif untuk dijalani.
Pihak kedua terdiri dari orang yang telah pensiun
dari sebuah BUMN masuk kerja kembali di perusahaan swasta. Mereka diminta oleh owner perusahaaan untuk membantu
memperlancar persiapan produksi pabrik baru. Mereka berasal dari bidang yang
berlainan dan diterima bekerja sesuai bidang kerja asalnya. Dalam berinteraksi
dan berkomunikasi dengan karyawan sangat membatasi diri, hanya pada level manajerial
tertentu dan yang langsung berkaitan dengan masalah pekerjaannya saja. Dengan
ukuran usia dan pengalaman yang dimiliki menunjukan bahwa mereka adalah
orang-orang yang ahli dan memilki posisi strategis di tempat lamanya. Menjaga
imej masih dipegang sebagai orang yang pernah duduk di perusahaan besar dengan
standar nasional. Kelihatannya sewaktu bekerja di tempat lamanya, mereka lebih
banyak bergelut dalam manajemen dan berkutat dengan administrasi. Ketika di
tempat barunya, kelihatan gagap untuk ’turun gunung’ lebih dulu untuk
beradaptasi. Mereka heran melihat orang yang berposisi dalam manajerial turun
mengatasi masalah teknis di lapangan. Lain di perusahaan pemerintah lain pula
di perusahaan swasta, mungkin pikirnya. Namun, hari demi hari dapat dilalui
dengan mulai berinteraksi dengan berbagai jenjang karyawan, terutama dalam
hubungan nonformal (misal waktu ishoma). Melibatkan diri secara proaktif di
lapangan sudah kelihatan lebih intens. Demikian pula dengan berinteraksi dengan
bagian lain sudah mulai berjalan baik dan ramah.
Dari dua peristiwa di atas, tidak saja dapat
dilihat dari posisi pekerja, tetapi juga dari sisi perusahaan yang menerima.
Jika dilihat dari pekerja, maka orang muda di atas sedang semangatnya berjuang meniti
karir dalam mencari ’makan’ (nafkah buat keluarga), sementara orang yang telah
pensiun hanya menjalankan ’hobi’nya (jika profesi sudah menjadi hobi), sekedar
mengisi waktu dan buat menambah kekayaan. Dalam beradaptasi dengan lingkungan
baru, si orang muda lebih berpotensi dibanding dengan orang tua, sehingga lebih
kecil mengalami ’cultural shock’ di
tempat barunya. Orang muda lebih bisa cuek dah! menembus sekat-sekat
birokratis.
Sistem rekruitmen perusahaan yang menerima pekerja
menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan dalam kasus ini. Orang pertama masuk
melalui tes masal yang diadakan pemerintah dan setelah diterima langsung
ditempatkan. Sedangkan pada orang-orang di pihak kedua tidak mendapatkan sistem
rekruitmen yang baik. Apalagi diminta untuk membantu (walaupun tetap digaji
dong! masa sih orang kerja engga digaji?). Bahwa mereka telah memilki posisi
tertentu di tempat lamanya seharusnya disiapkan segala sarana, fasilitas,
sumber daya pendukung, dan job
description dalam struktur organisasi yang jelas. Kultur dan atmosfer yang
sangat kontras dan bertolak belakang juga menjadi penghambat untuk berkarya dan
bekerja sama dengan orang lain terutama dalam tim kerja.
Simpulannya, kedua kasus di atas tidak dapat
menjadi refresentasi bagi berpindahnya karyawan menjadi pegawai atau pensiunan
pegawai menjadi karyawan. Kedua kasus tersebut tidak dapat digeneralisasi untuk
semua karyawan di swasta dan pegawai di pemerintah seperti di atas. Apalagi
kalau sudah menyangkut sistem manajemen dan kepemimpinan, kultur dan atmosfer
setiap perusahaan akan lebih kompleks masalahnya. Jangankan membandingkan
sebuah perusahaan swasta dengan perusahaan pemerintah, sesama perusahaan swasta
dengan bidang usaha yang sama atau sesama perusahaan pemerintah, tentunya akan
banyak perbedaan yang dijumpai.
Setiap pribadi dapat berkembang disebabkan 2 hal
baik faktor internal atau eksternal. Faktor internal diperoleh dari dalam
individu itu sendiri, sementara faktor eksternal didapatkan dari lingkungan
(organisasi). Mana yang lebih dominan pada setiap orang tidak sama. Ada orang
yang biasa saja, tetapi setelah masuk dalam suatu organisasi menjadi pribadi
luar biasa. Organisasi telah membentuknya. Sebaliknya, ada orang yang sebelum
masuk organisasi sudah memiliki pribadi yang prima dan unggul. Tanpa peran organisasi,
orang ini tetap dengan dirinya.
Penulis membuat guyonan buat orang lain yang masuk
ruang kerja dan berbincang segala hal. Bahwa hati-hati setelah ke luar dari
ruangan ini, kamu akan menjadi pintar atau mental rusak. Just kidding!
Mengenai keterkaitan antara orang dengan tempat
dia bekerja, berkarya, dan berkreasi terdapat moto yang sudah diketahui
khalayak umum dan sering diulang-ulang, yakni the right man on the right place. Akan tetapi dalam praktik dan
kenyataannya, terjadi ada orang bagus di tempat yang bagus, ada orang bagus di
tempat yang jelek, ada orang jelek di tempat yang bagus, atau ada orang jelek
di tempat yang jelek.
Nah, baiknya sebelum menilai apakah faktor orang
lain atau sistemnya yang jelek, kan lebih baik introspeksi ke diri kita dulu.
Bahasa agamanya, muhasabah! Satu jari (telunjuk) mengarah ke depan, keempat
jarinya menunjuk batang hidung sendiri.
Peran kita yang jelek, kok cermin yang dibelah!
Cermin tidak pernah bohong, kan?!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar