Sehebat apapun seorang pemimpin tidak akan
berhasil membawa kemajuan bagi organisasinya tanpa orang-orang di sekitarnya.
Sudah saatnya pemimpin yang ”otoriter” mengubah perilakunya dari seorang yang
merasa ”superman” menjadi pemimpin yang memimpin dan memanajemen ”supertim”
nya. Pemimpin yang memiliki tim manajemen yang baik dalam bekerja dan loyal
terhadap organisasi serta berdedikasi dengan kemajuan.
Setiap orang pasti memilki kelebihan dan
kekurangan. Melalui organisasi inilah kelebihan seseorang menambal kekurangan
orang lain. Saling melengkapi, bersinergi, giving
and sharing sumber daya, dan mengisi satu sama lain, sehingga idealnya
sebuah organisasi laksana perwujudan dari sejumlah kapasitas dan kapabilitas
sumberdaya manusia yang potensial. Integrasi ini tidak hanya terjadi antara
sesama anggota tim manajemen, juga antara pimpinan dengan setiap dan semua anggota
tim.
Dalam mengorganisasi tim, tentu saja
berbeda cara bekerjanya pimpinan dengan anggota tim. Masalahnya, apakah seorang
pemimpin wajib, harus, mesti, kudu menjadi pemikir juga? Atau pemimpin
seharusnya tetap bertengger di atas awan saja, tidak harus turun gunung.
Sebaliknya, semua persoalan dari yang berskala gajah sampai semut seorang pemimpin
mesti mengetahuinya. Dari masalah yang serius dan strategis sampai persoalan
yang sepele dan remeh.
Istilah ”pemikir” di sini yang penulis
maksudkan adalah, seorang visioner,
penggagas, konseptor, perencana, dan bertindak seperti pemain catur yang sudah
menyiapkan segala keputusan kini dengan 2, 3, dan 4 langkah ke depan. Seorang
pemikir tidak hanya bergerak sigap secara spontan. Apalagi bertindak cepat
secara gegabah. Juga bukan berbuat untuk kebutuhan dan kepentingan sesaat.
Tidak juga sekedar untuk pemenuhan hasrat biologis pribadinya, melainkan demi
membangun chemistry dengan anggota
tim dan menjalin nilai manfaat sosial.
Intinya, sang pemikir memiliki program jangka panjang dan program jangka pendek
bekerja dalam organisasi. Baik pemimpin maupun anggota tim harus menjadi pemikir dengan kapasitasnya
masing-masing.
Negara kita sudah memilki visi yang bagus
dan jelas, yakni Pancasila. Sebuah contoh, tanpa bermaksud apa-apa, hanya
berbaik sangka saja (khusnudzon) dan positive thinking tentang pemerintahan
Soeharto di masa Orde Baru selama 32 tahun (1966-1998). Selain memilki banyak
kekurangan dan meninggalkan ”warisan” hingga kini, terdapat beberapa kelebihan,
terutama yang berikaitan dengan masalah: tim manajemen, pemikir, konsep, dan
program. Kita mengetahui orang-orang di
sekitar Presiden RI kedua itu adalah orang-orang pintar. Tentunya, bukan ”orang
pintar” yang dicari oleh pasien (penyakit medis, gangguan psikologis, atau kekosongan
spiritual) sebagai pengobatan alternatif. Kalau yang ini mah, lawannya ”orang pintar” yakni ”orang bodoh” dung,..eh
dong! Bukan begitu?
Kembali mengenai Orde baru, kita juga
mengenal: GBHN (garis-garis besar haluan negara); Bapenas (badan perencanaan
pembangunan nasional); Program Pembangunan Jangka Panjang (25 tahun); Program
Pembangunan Jangka Pendek, dikenal sebagi Pelita (pembangunan lima tahun) yang
disusun dalam bentuk Repelita setelah Kabinet terbentuk, serta Delapan Jalur
Pemerataan.
Oleh karena itu, terlepas dari kelebihan
dan kekurangannya antara Soekarno dan Soeharto, keduanya sudah berjasa bagi
bangsa, negara, dan tanah air ini. Jika fungsi PIMPINAN terbagi secara ekstrim dan
rigid antara LEADER dan MANAGER, maka Presiden pertama kita lebih sebagai
Leader sementara Presiden kedua kita, lebih sebagai Manager. Pendapat ini akan
membuka perdebatan dan memancing persepsi tentunya. Yang jelas, kedua mantan
pemimpin kita itu adalah pemikir pada zamannya yang pemikirannya jauh ke depan
melewati masanya berkuasa. Biarlah masa lalu lewat dengan putaran waktu, yang
penting sekarang menyikapi persoalan hari ini sambil menyongsong masa depan.
Kata seorang teman, sejarah adalah persoalan masa lalu, sedangkan politik
adalah masalah hari ini. Entahlah, apakah ekonomi dan bidang yang lain bukan
persoalan hari ini? Sampai hari ini pun saya belum pernah minta penjelasan
darinya.
Pemimpin selayaknya built-in sebagai pemikir. Sejatinya, pemimpin itu visioner dan
konseptor. Bukan lebih banyak bertindak dalam tataran implementasi, teknis,
taktis, dan aplikatif. Proporsionalitas diperlukan dan disesuaikan dengan
kapasitasnya.
Sekali lagi, keberhasilan sebuah
organisasi mencapai tujuan adalah hasil kerja bareng dan kompak pemimpin dan
timnya.
So, jika Anda jadi Pemimpin sekarang? siap
jadi Pemikir!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar